Mengenal Tradisi Nutu Padi, Peninggalan Nenek Moyang

 

Saya bersyukur terlahir di Indonesia yang sangat kaya (foto: Luana Yunaneva)

Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita tidak bisa memilih akan lahir di keluarga yang seperti apa tetapi kita bisa menentukan keluarga seperti apa yang akan dibentuk. Kalau saya boleh membuat analogi serupa dengan sedikit perubahan, saya ingin mengatakan hal demikian: kita tidak bisa memilih akan lahir kemudian tinggal di negara mana tetapi kita bisa menentukan sikap dan upaya apa yang bisa kita berikan untuk Tanah Air yang kita tinggali.

Saya merasa bersyukur dilahirkan dan tinggal di Indonesia. Kalau pun saya bercita-cita ingin pergi ke negara lain, tentu saja dalam durasi yang tidak lama dan saya harus segera kembali ke Tanah Air. Indonesia memiliki banyak kebudayaan yang menarik untuk dipelajari, termasuk tradisi turunan nenek moyang.

Nah, salah satu tradisi yang sudah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu namun kini mulai ditinggalkan adalah nutu pari atau nutu padi. Tak banyak daerah yang masih mempertahankan tradisi yang satu ini. Namun, saya kembali bersyukur, sejumlah warga di Desa Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur yang masih menjalankan tradisi tersebut.

Ilustrasi Padi (foto: Luana Yunaneva)

Nutu padi itu sendiri merupakan cara yang digunakan oleh generasi terdahulu untuk mengolah padi menjadi beras dengan cara ditumbuk. Hal ini sangat berbeda dengan pengolahan beras saat ini yang menggunakan mesin penggiling. Untuk proses nutu, dibutuhkan beberapa alat seperti ani-ani atau ketam, alu dan lesung.

Tahap yang harus dilakukan adalah menyiapkan tumpukan padi yang sudah dipanen. Kemdian potong menggunakan ani-ani atau ketam, yaitu pisau kecil yang terbuat dari kayu untuk memotong padi yang sudah masak. Setelah dipotong, padi pun dijemur dan siap dilakukan proses nutu untuk “menyulap” padi-padi ini menjadi beras dengan cara ditumbuk  di dalam lesung.

Tradisi Nutu Padi yang Masih Dijalankan Warga Desa Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri (foto: Luana Yunaneva)

Berbeda dengan mesin penggiling padi yang berisik, lesung justru memiliki nilai seni ketika menjalankan “tugasnya”. Pasalnya, proses penumbukan padi menggunakan lesung menjadi hiburan masyarakat pedesaan pada masa panen yang sering kali terjadi pada bulan purnama. Alu dan lesung yang saling dipukulkan membentuk alunan musik yang ritmis sehingga masyarakat setempat menamainya dengan kotekan lesung. Penasaran bagaimana prosesnya? Simak video liputan saya dan rekan sekerja berikut ini:

Soal hasil, tak perlu diragukan lagi karena padi yang ditumbuk menggunakan lesung lebih bagus dan tidak mudah pecah. Kebersihan dan rasa yang lebih lezat juga menjadi alasan warga sekitar masih mempertahankan tradisi nutu padi ini.

Sementara dari sisi filosofi pun, tradisi nutu padi menunjukkan falsafah gotong royong masyarakat Indonesia pada masa lalu. Untuk bisa menghasilkan beras yang bersih dan enak, dibutuhkan kerjasama beberapa orang. Pekerjaan pun juga harus dinikmati dan bila perlu diselingi hiburan berupa irama musik yang akan menambah semangat.

Tradisi Nutu Padi yang Masih Dijalankan Warga Desa Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri (foto: Luana Yunaneva)

Banyak kan hal menarik dari tradisi nutu padi?  Yakin kamu nggak ingin mengenal lebih dekat tradisi peninggalan nenek moyang kita ini?

 

Kediri, 31 Mei 2018

Luana Yunaneva

Tulisan di atas pertama kali dipublikasikan di blog pribadi ini, selanjutnya untuk Kompasiana

One thought on “Mengenal Tradisi Nutu Padi, Peninggalan Nenek Moyang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*