Megahnya Gereja Merah, Peninggalan Zaman Kolonial Belanda di Kediri

Suatu bangunan bisa dikatakan unik, kalau memiliki sesuatu yang berbeda dibandingkan bangunan lainnya. Entah dari segi desain, warna maupun tema yang diusung. Nah, kalau Anda suka jalan-jalan dan mengeksplorasi bangunan-bangunan yang unik, Kota Kediri, Jawa Timur tentu ada yang saya rekomendasikan buat Anda.

Kalau Anda datang dari Kota Surabaya maupun Kota Malang, coba Anda melewati jembatan kecil yang konon usianya sudah cukup tua, namun masih bisa digunakan para pengendara sepeda motor dan mobil pada jam-jam tertentu. Setelah melalui Pasar Bandar yang berada di sebelah barat sungai, langsung saja ambil jalur ke utara, tepatnya Jalan KDP Slamet.

Gereja Merah Tampak Luar (foto: Luana Yunaneva)

Tak usah mengendarai kendaraan terlalu cepat karena Anda akan segera menemukan sebuah gereja yang dicat dengan warna merah bata di sebelah kanan jalan. Ya, gereja yang menjulang tinggi itu bernama Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel. Warnanya yang unik membuat siapapun – kecuali warga lokal Kediri mungkin – yang melewati kawasan ini  ingin berhenti sejenak dan melihat dengan penuh tanya, “Bangunan apakah ini?” Berkat warna dominannya pula, masyarakat Kediri menyebut bangunan ini sebagai “Gereja Merah”.

GPBI Immanuel Kediri dibangun oleh orang-orang Belanda pada tahun awal abad ke-19. Momentum tersebut diabadikan melalui penandatanganan Dominus atau Pendeta J.A. Broers pada sebuah prasasti, 21 Desember 1904. Koster GPIB Immanuel Kediri, Lorens Hendrik menjelaskan, ini merupakan langkah awal pembangunan gereja untuk jemaat Protestan yang ada di Kota Kediri dan sekitarnya.

Gereja Merah Bagian Dalam (foto: Luana Yunaneva)

Bangunan gereja ini tak hanya megah ketika dipandang dari luar, tetapi juga tetap memiliki unsur sakral seperti rumah ibadah pada umumnya. Selain itu, jemaat yang beribadah di tempat ini juga seakan mampu merasakan atmosfer beribadah pada masa lampau. Sensasi ini pun saya nikmati ketika memasuki Gereja Merah. Bagian dalam bangunan gedung masih dipertahankan keasliannya, mulai jendela, mimbar, tangga dan ornament bangunan. Kalau pun ada sedikit modifikasi, tentu tidak banyak. Perubahan dan penambahan ini-itu memang dilakukan untuk menyesuaikan kondisi dan membuat jemaat nyaman dalam beribadah, seperti pada pemasangan salib, penataan mimbar dan bangku untuk majelis.

Berusia lebih dari 200 tahun membuat GPIB Immanuel menyandang status sebagai salah satu cagar budaya di Tanah Air. Untuk itu pihak majelis gereja berupaya menjaga kelestarian bangunan ini dengan melakukan perawatan. Selain untuk membuat jemaat tetap nyaman memenuhi kebutuhan rohaninya di rumah ibadah yang berkapasitas 200 orang ini, perawatan juga dilakukan agar masyarakat dapat menikmati dan mempelajari Gereja Merah sebagai salah satu peninggalan bersejarah.

Koster GPIB Immanuel Menunjukkan Alkitab Berbahasa Belanda yang Masih Terawat dengan Baik hingga Saat Ini (foto: Luana Yunaneva)Aset bersejarah lainnya yang juga dijaga oleh gereja ini, yakni sebuah Alkitab berbahasa Belanda yang ditulis pada September 1867. Alkitab ini masih ada hingga sekarang dengan penyimpanan di dalam lemari kaca, mengingat ada beberapa bagian yang sudah sobek.

Penasaran dengan Gereja Merah? Anda bisa langsung datang saja pada hari Selasa hingga Sabtu mulai pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB. Anda bisa mengobrol dengan pihak pengelola untuk mengetahui banyak hal tentang sejarah Gereja Merah maupun berfoto ria di luar halaman gereja tanpa dipungut biaya alias gratis.

Pada hari kerja jumlah pengunjung Gereja Merah sekitar 50 orang perhari. Sedangkan pada akhir pekan dan hari libur, jumlahnya bisa mencapai 70-an orang yang kebanyakan adalah anak-anak muda.

Kamu generasi now yang suka hunting foto yang kekinian? Boleh kok datang ke sini, asal tetap jaga kebersihan dan kesopanan ya!

 

 

Kediri, 20 Maret 2017

Luana Yunaneva

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan untuk JurnaLuana, selanjutnya untuk Kompasiana ^^

  • Mau ujian malam ni tapi ngantuk banget. Di luar ujan pula. Piye ngene iki jal? ?????? View on Path

  • Youtube dan Secangkir Teh Hangat

    Pagi ini ketika seluruh pekerjaan di kantor telah tuntas karena kuselesaikan sejak dua hari yang lalu, aku sedikit merenung tentang […]

  • Komposisi Beethoven Paling Sering Dimainkan di Dunia, Tahun 2016

    Beethoven menjadi musisi dengan komposisinya yang paling banyak dimainkan di dunia sepanjang tahun 2016. Pernyataan ini disampaikan Bachtrack Valery Gergiev, […]

  • Dansa: Olahraga Kok Berhitung?

    Beberapa waktu yang lalu, seorang teman mengajak saya untuk menemaninya ketika menghadiri sebuah acara. Dikatakannya, ini merupakan pertemuan perdana arisan […]

6 thoughts on “Megahnya Gereja Merah, Peninggalan Zaman Kolonial Belanda di Kediri

    1. memang aslinya merah dari dulu, mbak, alias peninggalan Belanda
      tapi makin ke sini memang makin dirawat sama pihak gereja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*