Menjadi Kids Zaman Now yang Pegang 4 Pilar MPR RI, Bisa!

Generasi muda zaman sekarang tak bisa lepas dari gawai karena dari situlah mereka dapat mangakses dan menyebarkan segala informasi dengan cepat dan mudah. Cukup dengan menyentuh layar dengan lembut, tap, tap, tap, apa yang ingin mereka lakukan terhadap sebuah informasi dapat terealisasi dalam waktu yang bersamaan.

Namun ternyata, kemajuan teknologi tersebut bisa membahayakan jika tidak disikapi dan diberi pendampingan yang baik, bahkan oleh negara. Lihat saja, belakangan ini banyak sekal informasi maupun berita hoax yang tersebar di media sosial.

Tanpa jelas siapa yang mengatakannya secara langsung dan sumber resmi media yang dikutip, netizens – sebutan untuk para pengguna internet – yang merasa tersentuh maupun terpancing dengan materi yang diangkat langsung saja membagikannya ke jejaring sosial yang dimilikinya. Akibatnya. berita-berita dengan judul bombastis pun segera menjadi viral di dunia maya. Belum lagi, jika berita-berita tersebut masih dibumbui dengan komentar-komentar pedas maupun disunting ulang dengan tambahan materi yang sebenarnya di luar konteks.

Hal inilah yang membuat Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) tergerak untuk mendidik anak-anak bangsa agar lebih bijak dalam mengelola media sosial. Dalam acara “Ngobrol bareng MPR” di Fairfield by Marriott Hotel Surabaya, Sabtu 4 November 2017, saya dan 70-an netizens Surabaya dan sekitarnya berkesempatan untuk me-refresh otak kembali mengenai semangat kebangsaan setelah tidak mendapatkan materi PPKN sewaktu masih sekolah dulu. Diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama-sama, acara yang dihadiri oleh dua perwakilan MPR RI ini menekankan betapa pentingnya peran generasi muda dalam menjaga etikanya ketika menggunakan media sosial. Pasalnya, apa yang tertuang dalam tulisan itu mencerminkan nilai dari penulisnya.

Kepala Bagian Pengolahan Data dan Sistem Informasi Sekretaris Jenderal (Sekjen) MPR RI, Andriyanto menyadari, betapa pentingnya keberadaan anak-anak muda yang saat ini menjadi ujung tombak kemajuan suatu bangsa. Pasalnya, merekalah yang aktif menyuarakan ide dan aspirasinya melalui media sosial yang notabene dapat diakses secara global dibandingkan generasi sebelumnya. Untuk itu, mereka perlu lebih bijaksana dalam menggunakan media bermata dua tersebut.

Menanggapi banyaknya berita maupun broadcast yang cepat menjadi viral di media sosial, Andriyanto meminta masyarakat untuk tidak langsung menyebarkannya tetapi mencari tahu kebenarannya. Untuk menjadi netizer cerdas, ada cara yang cukup mudah!

Pertama, cari sumber resminya. Jika sumbernya berasal dari media, pastikan bahwa media tersebut memiliki kredibitas tinggi, bukan ditunggangi oleh kepentingan manapun atau sekadar pencitraan oknum tertentu yang sebenarnya berpotensi memprovokasi masyarakat.]

Kedua, tanyakan hal tersebut kepada orang yang ahli di bidangnya agar kita mendapatkan kejelasannya.

Ketiga, bekali diri dengan literasi. Semakin banyak buku maupun tulisan bermutu yang kita baca akan menentukan cara pandang dan pola pikir kita akan sesuatu. Dengan bekal buku-buku tersebut, kita akan dapat mengetahui tingkat validitas suatu berita.

Penguasaan literasi ini ternyata sudah dilakukan generasi terdahulu, tepatnya sebelum Sumpah Pemuda dikumandangkan. Untuk itu, Andriyanto menegaskan, kids zaman now pun juga sudah selayaknya untuk melakukan hal yang sama, bahkan di era globalisasi saat ini. Bahkan kemajuan teknologi semakin memudahkan generasi muda untuk menunjukkan keberadaan bangsa Indonesia, entah itu melalui blog, vlog maupun media sosial. Tak heran jika dalam kesempatan tersebut, Andriyanto juga mengapresiasi para netizens Surabaya dan sekitarnya yang gencar menyuarakan ide-ide kreatifnya melalui tulisan dan video yang dihasilkan. Ia juga berharap, para netizens juga mampu menularkan semangat positifnya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Nah, lalu apa hubungannya MPR RI yang berkedudukan sebagai lembaga negara kok repot-repot mengurus etika generasi muda dalam menggunakan media sosial, kok tidak memikirkan hal lain yang jauh lebih penting?

Sekjen MPR RI, Ma’ruf Cahyono menjelaskan, hal ini tidak lepas dari tugas-tugas MPR RI yang diembannya, antara lain pemasyarakatan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bhinneka Tunggal Ika dan Ketetapan MPR ; pengkajian sistem ketatanegaraan, UUD NRI Tahun 1945 serta pelaksanaannya ; melaksanakan pengelolaan aspirasi masyarakat dan daerah dalam rangka penyusunan pokok haluan penyelenggaraan negara (PHPN) ; menyampaikan pokok haluan penyelenggaraan negara (PHPN) kepada lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD NRI tahun 1945 ; menyelenggarakan sidang tahunaan MPR dalam rangka laporan kinerja lembaga negara kepada publik ; melaksanakan konsultasi dan koordinasi dengan pimpinan lembaga negara lainnya ; dan memberikan penjelasan atas tafsir kaidah konstitusional dalam sidang mahkamah konstitusi.

4 pilar

Itulah sebabnya, saat ini MPR RI gencar mensosialisasikan empat pilar MPR untuk menggugah semangat nasionalisme masyarakat terutama generasi muda. Keempat pilar tersebut yaitu Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara. Semuanya itu dibuat bukan tanpa alasan melainkan sarat dengan makna.

“Jangan salah lho, lagu Indonesia Raya yang tadi kita nyanyikan bersama-sama itu memiliki filosofi mendalam jika dihayati benar. Setiap liriknya sarat akan makna. Makanya kita kan selalu berhati-hati kalau menyanyikan lagu itu. Jangan sampai refrain-nya kurang satu kali!” ia menekankan. “Apapun profesimu, pahami betul konstitusi karena itulah yang menjadi landasaran bagi kita dalam berperilaku dan mengambil keputusan sebagai warga negara Indonesia.”

Ma’ruf pun sempat memaparkan kelima sila Pancasila yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari—hari, menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Bahkan MPR RI sudah mengemasnya dalam stiker dan poster yang cantik berikut ini:

paancasila

Begitu juga dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Menyadari keberagaman yang ada di Indonesia, Ma’ruf mengajak generasi muda untuk tidak mempermasalahan kebhinekaan atau perbedaan tersebut karena sejak lahir ke dunia, manusia sudah menunjukkan perbedaannya. Mulai warna kulit, bentuk anggota tubuh, suku, agama, hingga budaya.

bareng 2
Meski berbeda, kami ada satu, para generasi muda Indonesia yang membawa perubahan (foto: Luana Yunaneva)

“Jangan melulu meneriakkan perbedaan tetapi bersatu!” tegasnya. “Kalau kalian merantau pasti mengerti dengan keadaan ini. Ada yang berasal dari Jawa, Sumatera dan berbagai daerah. Kenapa nggak disatukan saja dengan bertukar cerita? Kan itu lebih menyenangkan!”

Cara yang tak kalah mengasyikkan dalam mengobarkan semangat kebangsaan, tukas Ma’ruf, adalah dengan mem-posting tulisan maupun video yang bermanfaat. Entah itu kuliner lokal, usaha kecil dan menengah (UKM), maupun kisah inspiratif yang berangkat dari pengalaman pribadi. Pasalnya, hal-hal positif yang ditularkan melalui media sosial tersebut mampu menunjukkan nilai-nilai diri kita sebagai bangsa Indonesia. Tetapi juga pastikan bahwa karya yang dipublikasikan itu merupakan hasil pemikiran sendiri, bukan plagiat yang jelas-jelas melanggar konstitusi.

Mau jadi kids zaman now yang berdampak bagi sekitar, gampang kan?

 

 

Kediri, 6 November 2017

Luana Yunaneva

 

 

 

 

 

10 thoughts on “Menjadi Kids Zaman Now yang Pegang 4 Pilar MPR RI, Bisa!

  1. Wah iya bener. Ke depannya yang menggerakkan perekonomian (UKM) ini sbnrnya ya generasi milenial kids jaman now ini ya. Dan sosial media mejadi salah 1 toolsnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*